Anakku, berpuas-puaslah mengkhayal dan merapal imajinasimu.
Jangan hitamkan kulitmu dengan memunguti receh yang disebar pengendara roda empat.
Peluit itu bukan mainanmu, anakku, untuk menggiring kendaraan memutar balik atau sekedar meninggalkan parkiran.
Anakku, aku kumpulkan sejumlah buku untuk mengenyangkanmu kelak.
Jangan kau gelisah akan gelita malam kala aku meninabobokanmu dengan dendang melayu.
Suatu hari kau akan mencari judulnya dan bernostalgia.
Jangan mencari pemuas hari ini karena kau takut diolok esok.
Tugaskulah, anakku, hari ini mengucurkan keringat mengonversikannya menjadi baju dan sepatu barumu.
Anakku, aku tidak akan kehilangan bait terakhir dalam sajakku untukmu.
Mari berseloroh dibawah beton-beton ini dan memahat kenangan dengan rapi.
Aku tak butuh kau bangga dengan kerjaku memintal benang dan mengakurkan pola-pola kain.
Tapi, anakku, kau bisa bangga dengan mimpiku untuk memberimu senyum paling lebar.
Anakku, aku mencintaimu atas nama seluruh elemen alam yang menjadikanmu milikku.
Aku mencintaimu hampir setelah aku mencintaiNya dan para utusanNya.
*Selamat hari Anak Nasional. Allah bless all children around the world.
Tuesday, July 26, 2011
Sunday, July 17, 2011
Tanya Goyang-Goyang
Dan pekat mengentalkan relung
Senyap tak luput ikut lamunkan bayang
Kita berkejaran mengimbal tanya yang goyang-goyang
Sebelum kita larut dalam selimut, geli bermimpi, dan jumpalitan kanan kiri
Kirimkan aku baris bergaris
Akan ku bayar dengan berlusin butir getir kalimat satir
Kita ini apa?
Lelucon lama?
Atau sindiran berbalur doa?
Sahnya, kita bersuara
Tak cuma merajut kata dan sengaja diusangkan udara
Thursday, June 23, 2011
Boneka Mas Toro
Aku, pada akhirnya, ikhlas berbagi atap dengan istri muda suamiku.
Setidaknya itu yang aku rasakan tiga tahun terakhir semenjak Mas Toro memutuskan untuk berpoligami.
Aku tidak pernah setuju dengan keinginan suamiku itu. Selain karena aku terlalu mencintainya, kami memiliki anak perempuan usia empat tahun yang sedang sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.
Mas Toro bersikeras memiliki istri baru. Sedangkan aku sempat mengancamnya untuk menceraikanku saja jika ia tetap ingin memperistri wanita yang katanya lebih muda lima tahun dariku itu. Ia pun menikah siri tanpa sepengetahuanku.
Ia membawa istri mudanya dihari ia mengakui perbuatannya. Kami kemudian dikenalkan. Aku terkejut bukan main. Aku menjabat tangan dan mencium pipi istri baru suamiku yang berupa plastik.
Setidaknya itu yang aku rasakan tiga tahun terakhir semenjak Mas Toro memutuskan untuk berpoligami.
Aku tidak pernah setuju dengan keinginan suamiku itu. Selain karena aku terlalu mencintainya, kami memiliki anak perempuan usia empat tahun yang sedang sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.
Mas Toro bersikeras memiliki istri baru. Sedangkan aku sempat mengancamnya untuk menceraikanku saja jika ia tetap ingin memperistri wanita yang katanya lebih muda lima tahun dariku itu. Ia pun menikah siri tanpa sepengetahuanku.
Ia membawa istri mudanya dihari ia mengakui perbuatannya. Kami kemudian dikenalkan. Aku terkejut bukan main. Aku menjabat tangan dan mencium pipi istri baru suamiku yang berupa plastik.
Wednesday, June 22, 2011
Nur, Sang Cahaya
Kini gelap
Nur menatap senyap
Singup, jantung tak lagi berdegup
--
Nur dipaksa
Dibungkam jiwanya
Diborgol nyawanya
Dirampas hak bela
Digunduli mimpinya
Ditanggalkan asanya
Dicuri napasnya
--
Nur berjanji kembali
Pada anak dan suami
Pulang ke Bekasi
Bergelar pahlawan masa kini
--
Nur, Sang Cahaya
Sekedar mengejar cita
Menerangi jalan hidup anak-anaknya
Nur, rela
Menapak kaki di negeri seberang sana
Berselempang serbet tua
Bermodal pangkat "devisa negara"
Bertaruh nyawa.
Nur menatap senyap
Singup, jantung tak lagi berdegup
--
Nur dipaksa
Dibungkam jiwanya
Diborgol nyawanya
Dirampas hak bela
Digunduli mimpinya
Ditanggalkan asanya
Dicuri napasnya
--
Nur berjanji kembali
Pada anak dan suami
Pulang ke Bekasi
Bergelar pahlawan masa kini
--
Nur, Sang Cahaya
Sekedar mengejar cita
Menerangi jalan hidup anak-anaknya
Nur, rela
Menapak kaki di negeri seberang sana
Berselempang serbet tua
Bermodal pangkat "devisa negara"
Bertaruh nyawa.
Wednesday, June 8, 2011
Sepotong Roti
Pagi-pagi setelah menari dibawah pelangi,
eyang putri kembali menyulam memori.
Dilumat habis lukisannya sendiri.
Eyang putri hanya menguas wajah anak dan suami.
Lalu melayang pergi.
Menengadah sendiri.
Mencari-cari sepotong roti.
Mengais mimpi:
keluarga yang tak pernah dimiliki.
Disudut Bantar Gebang, Bekasi.
eyang putri kembali menyulam memori.
Dilumat habis lukisannya sendiri.
Eyang putri hanya menguas wajah anak dan suami.
Lalu melayang pergi.
Menengadah sendiri.
Mencari-cari sepotong roti.
Mengais mimpi:
keluarga yang tak pernah dimiliki.
Disudut Bantar Gebang, Bekasi.
Sunday, June 5, 2011
Sita Pulang Dalam Remang Naik Kereta Api
Sita pulang dalam remang
Memanggul koran bekas
Yang dipotong kotak-kotak kecil
Jam 9 pagi waktu favoritnya
Menunggu kereta api melintas dengan pesatnya
Sita tertawa sampai terlihat semua giginya
Sita, 43 tahun
Pakai piyama bunga-bunga
Lidi ditangannya, pemotong kertas koran
Sita, kesayangan ayah
Duduk dipangku selalu
Sejak dulu, sejak diperangkap waktu
Memanggul koran bekas
Yang dipotong kotak-kotak kecil
Jam 9 pagi waktu favoritnya
Menunggu kereta api melintas dengan pesatnya
Sita tertawa sampai terlihat semua giginya
Sita, 43 tahun
Pakai piyama bunga-bunga
Lidi ditangannya, pemotong kertas koran
Sita, kesayangan ayah
Duduk dipangku selalu
Sejak dulu, sejak diperangkap waktu
Monday, May 30, 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)
