Showing posts with label sajak ringan. Show all posts
Showing posts with label sajak ringan. Show all posts

Friday, January 27, 2012

Katalis Kopi

Di sepertiga siang,
yang biru langitnya lamat-lamat ketepian,
rerintik lembut gerimis mengetuk permukaan jalan,
dan wangi kopi yang terperangkap di ruang makan,
kita duduk berhadapan
Menangkap-nangkap kenangan yang tersisa di ujung pelipis
Menitipkan rahasia tantang apa, siapa, dan bagaimana
Mengupas kejujuran dan melahap habis sakit hati
Mencecar jawaban akibat keingintahuan yang menggebu

Cangkir hitam isi kopi kental itu mondar-mandir di bibir kita
seakan menjadi jeda antar cerita
menjadi penanda siapa giliran berikutnya
dan menjadi katalis dalam bauran cinta

Tuesday, December 20, 2011

Memori Sederhana

Hari ke lima belas.

Pesan pagimu hari ini berkurang satu kata lagi.
Doamu untuk kita berangsur hambar sejak entah kapan.
Alibimu bertubi-tubi.
Matamu lebih cepat berputar ketimbang menajam saat kita berbincang.
Secangkir teh yang tidak terlalu manis kesukaanmu mulai sering menyisa.
Jemarimu mengurus pada genggaman kita.
Ceritamu menguap entah kemana.
Jangkauan langkahmu semakin lebar.
Kau lupa lirik lagumu sendiri.
Puisi konyolmu mendadak serius.

Jejakmu hilang semerta-merta.
Atau kau sengaja meletakkanku dalam memori yang sederhana sehingga tak kan begitu sulit menguraiku?

Tuesday, July 26, 2011

Anakku..

Anakku, berpuas-puaslah mengkhayal dan merapal imajinasimu.
Jangan hitamkan kulitmu dengan memunguti receh yang disebar pengendara roda empat.
Peluit itu bukan mainanmu, anakku, untuk menggiring kendaraan memutar balik atau sekedar meninggalkan parkiran.

Anakku, aku kumpulkan sejumlah buku untuk mengenyangkanmu kelak.
Jangan kau gelisah akan gelita malam kala aku meninabobokanmu dengan dendang melayu.
Suatu hari kau akan mencari judulnya dan bernostalgia.
Jangan mencari pemuas hari ini karena kau takut diolok esok.
Tugaskulah, anakku, hari ini mengucurkan keringat mengonversikannya menjadi baju dan sepatu barumu.

Anakku, aku tidak akan kehilangan bait terakhir dalam sajakku untukmu.
Mari berseloroh dibawah beton-beton ini dan memahat kenangan dengan rapi.
Aku tak butuh kau bangga dengan kerjaku memintal benang dan mengakurkan pola-pola kain.
Tapi, anakku, kau bisa bangga dengan mimpiku untuk memberimu senyum paling lebar.

Anakku, aku mencintaimu atas nama seluruh elemen alam yang menjadikanmu milikku.
Aku mencintaimu hampir setelah aku mencintaiNya dan para utusanNya.

*Selamat hari Anak Nasional. Allah bless all children around the world.

Sunday, July 17, 2011

Tanya Goyang-Goyang


Ketika hitam mencumbu para selirnya, bintang
Dan pekat mengentalkan relung
Senyap tak luput ikut lamunkan bayang
Kita berkejaran mengimbal tanya yang goyang-goyang

Sebelum kita larut dalam selimut, geli bermimpi, dan jumpalitan kanan kiri
Kirimkan aku baris bergaris
Akan ku bayar dengan berlusin butir getir kalimat satir

Kita ini apa?
Lelucon lama?
Atau sindiran berbalur doa?
Sahnya, kita bersuara
Tak cuma merajut kata dan sengaja diusangkan udara

Wednesday, June 22, 2011

Nur, Sang Cahaya

Kini gelap
Nur menatap senyap
Singup, jantung tak lagi berdegup
--
Nur dipaksa
Dibungkam jiwanya
Diborgol nyawanya
Dirampas hak bela
Digunduli mimpinya
Ditanggalkan asanya
Dicuri napasnya
--
Nur berjanji kembali
Pada anak dan suami
Pulang ke Bekasi
Bergelar pahlawan masa kini
--
Nur, Sang Cahaya
Sekedar mengejar cita
Menerangi jalan hidup anak-anaknya
Nur, rela
Menapak kaki di negeri seberang sana
Berselempang serbet tua
Bermodal pangkat "devisa negara"
Bertaruh nyawa.

Wednesday, June 8, 2011

Sepotong Roti

Pagi-pagi setelah menari dibawah pelangi,
eyang putri kembali menyulam memori.
Dilumat habis lukisannya sendiri.
Eyang putri hanya menguas wajah anak dan suami.
Lalu melayang pergi.
Menengadah sendiri.
Mencari-cari sepotong roti.
Mengais mimpi:
keluarga yang tak pernah dimiliki.
Disudut Bantar Gebang, Bekasi.

Sunday, June 5, 2011

Sita Pulang Dalam Remang Naik Kereta Api

Sita pulang dalam remang
Memanggul koran bekas
Yang dipotong kotak-kotak kecil

Jam 9 pagi waktu favoritnya
Menunggu kereta api melintas dengan pesatnya
Sita tertawa sampai terlihat semua giginya

Sita, 43 tahun
Pakai piyama bunga-bunga
Lidi ditangannya, pemotong kertas koran
Sita, kesayangan ayah
Duduk dipangku selalu
Sejak dulu, sejak diperangkap waktu