Showing posts with label Cerita supermini. Show all posts
Showing posts with label Cerita supermini. Show all posts

Thursday, October 6, 2011

Menulismu

Pembalasan dendam melalui huruf yang tersusun rapi diatas halaman-halaman kosong.

Saya ingin menulismu dengan benar. Dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Dengan susunan yang rapi dan kerangka yang indah. Saya belum memikirkan apa yang akan saya tulis tentangmu. Tidak tahu bagaimana menggambarkan latar yang pantas untuk mengawalimu. Apakah sore hari dengan angin sepoi, malam hari lengkap dengan kunang-kunangnya, pagi di terminal bus, atau siang yang terik hingga bau keringatmu menguap kemana-mana.

Akhir ceritamu juga belum terpikir. Saya mau akhir yang menyenangkan. Tapi itu klise. Kalau saya mengakhirimu dengan kepedihan, maka saya tidak akan pernah sanggup menuliskan paragraf terakhir itu. Akhir yang mengejutkan saya rasa tidak buruk, seperti menjelaskan bahwa ternyata kamu adalah gay atau kamu adalah reinkarnasi Raja Kamehameha.


Yang pasti cerita itu hanya akan ada dua tokoh: kamu dan seseorang (bukan saya). Seperti balas dendam, diatas halaman-halaman kosong saya bisa menuliskan dengan pena hitam apa-apa yang saya inginkan terjadi. Rekayasa kejadian antara kamu dan dia yang ingin saya ceritakan berbeda dengan kenyataan. Saya tidak akan terlalu jahat menulis tentangnya. Bahkan mungkin cerita kalian adalah yang paling romantis yang pernah saya karang. Saya hanya ingin menulismu dengan benar menurut cerita versi saya. Entah nanti jadinya bergenre horor misteri, komedi, drama romantis, atau thriler.

Tuesday, September 27, 2011

Senyum

Sudah hampir petang saat sebuah rumah makan sederhana di pojok gang Jalan Seruni membuka gerainya. Tak ada meja yang belum memiliki tuan. Semua terisi penuh. Ramai. Orang-orang yang seharusnya terlihat kelaparan ini malah berlomba meninggikan suaranya sampai urat lehernya menonjol. Sepanjang mata memandang, rata-rata pengunjung rumah makan ini adalah remaja. Dengan kisaran harga menu yang menjamin kantong tak kering, perut dan lidah akan dimanja-manja sepuasnya.

Diantara meja makan-meja makan, mereka bercengkrama merekonstruksi kejadian dan bersenyuman. Aku kenal senyum-senyum itu. Senyum manja, senyum malu, senyum sarkastik, senyum sinis, senyum sayang, senyum gembira, sampai senyum pura-pura. Wanita dengan kaos merah muda itu contohnya, yang sepanjang perbincangan hanya mengangguk, menggeleng-gelengkan kepala, dan senyum bosan sedangkan lawan bicaranya tak henti bercerita seperti lupa dia harus bernapas.

Senyum seharusnya mengesankan keikhlasan, bukan begitu? Tapi mengapa aku melihat banyak versi. Katanya senyum itu ibadah. Mungkin tidak semua jenis senyum dihitung sebagai ibadah. Siapa yang tahu? Siapa yang peduli? Mungkin aku peduli walaupun aku tak tahu. Menurutku, senyum itu ekspresi yang merepresentasi perasaan yang belum memiliki nama resmi. Seperti saat aku bertanya pada seorang teman kenapa dia memilih duduk sendiri dengan muka ditekuk dan berpangku tangan. Dia menjawab, “Aku punya masalah dengan nilai ujianku. Yang kutahu teman-teman yang lain mendapat nilai bagus. Aku minder. Aku malu.” Setidaknya itu yang aku terjemahkan lewat senyumnya. Senyum menjadi jalan pintasnya menjawab perhatianku alih-alih menamai perasaannya sendiri.

Di rumah makan sederhana ini, aku dan dua sahabatku bercakap-cakap sederhana. Kami memilih-milih cerita untuk dikisahkan. Sebagian benar terjadi, sisanya (aku anggap) masih menjadi sebuah harapan. Kami juga melempar senyum-senyum dengan sesekali tertawa pendek yang dibuat-buat. Senyum kami berbeda dari mereka yang duduk diantara meja makan-meja makan itu. Kami memiliki senyum rahasia. Salah satu jenis senyum favoritku. Senyum yang didahulukan, yang diciptakan sambil menerawang angan. Senyum masa depan. Senyum kebanggaan.

17 Agustus 2011

Thursday, June 23, 2011

Boneka Mas Toro

Aku, pada akhirnya, ikhlas berbagi atap dengan istri muda suamiku.
Setidaknya itu yang aku rasakan tiga tahun terakhir semenjak Mas Toro memutuskan untuk berpoligami.

Aku tidak pernah setuju dengan keinginan suamiku itu. Selain karena aku terlalu mencintainya, kami memiliki anak perempuan usia empat tahun yang sedang sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.

Mas Toro bersikeras memiliki istri baru. Sedangkan aku sempat mengancamnya untuk menceraikanku saja jika ia tetap ingin memperistri wanita yang katanya lebih muda lima tahun dariku itu. Ia pun menikah siri tanpa sepengetahuanku.

Ia membawa istri mudanya dihari ia mengakui perbuatannya. Kami kemudian dikenalkan. Aku terkejut bukan main. Aku menjabat tangan dan mencium pipi istri baru suamiku yang berupa plastik.